Perempuan dalam Masa Transisi di Negara Eropa Timur dan Tengah

Fenomena proses demokratisasi yang terjadi pada akhir abad ke-20, menjadi suatu kecenderungan umum yang berlaku di berbagai negara dengan banyaknya peristiwa keruntuhan rezim otoriter di Afrika, Asia, Eropa Timur dan Tengah, dan Amerika Latin.  Perubahan rezim otoriter ke demokratis membawa dampak adanya superioritas dari ideologi demokrasi liberal.[1] Berbagai bentuk pemerintahan seperti otoriter atau demokratis membawa dampak tersendiri bagi kepentingan perempuan, baik kepentingan praktis maupun strategis di segala bidang.  Lalu ketika rezim otoriter berganti kepada rezim yang lebih demokratis, apa yang didapat perempuan dalam bidang ekonomi di wilayah Eropa Timur dan Tengah paska runtuhnya Uni Soviet ?

Jawaban yang bisa dilontarkan adalah masih tidak ada.  Di negara-negara bekas komunis, transisi dan konsolidasi demokrasi masih menyisakan sejumlah pertanyaan tentang kesetaraan bagi perempuan.  Perempuan dihadapkan bukan saja pada munculnya nasionalisme yang sempit, tetapi juga pada persoalan-persoalan globalisasi dan liberalisasi.

Ketika ideologi sosialisme masih menjadi jargon rezim komunis di ngara-negara Eropa Timur dan Tengah, perempuan memang menjadi bagian dari proses pencitraan kesetaraan dan keadilan sosial.  Kesetaraan laki-laki dan perempuan dicantumkan secara legal dalam konstitusi dan propaganda mereka, sehingga lebih mengesankan adanya kebebasan dan kesetaraan bagi perempuan sebagai bagian dari kehidupan yang damai.  Bahkan dalam revolusi Rusia, posisi perempuan masuk dalam kategori yang berada di garis depan.  Para pemimpin komunis berpendapat bahwa emansipasi peempuan menjadi salah satu persyaratan untuk mencapai revolusi Rusia.[2]

Akan tetapi kenyataannya, terdapat banyak sekali ambiguitas terutama pada tingkatan implementasinya. Hal ini terbukti dengan tidak dihiraukannya Konvensi Penghapusan Segala Bentuk Diskriminasi terhadap Perempuan segera setelah diratifikasi dan disahkan.  Dalam bidang politik, meskipun jumlah keterwakilan perempuan di dalam parlemen termasuk tertinggi di dunia, namun pada kenyataannya parlemen tidak emiliki kekuasaan karena satu-satunya institusi yang berkuasa adalah Partai Komunis dimana hampir tidak ada perempuan terlibat di dalamnya.

Partisipasi perempuan di dunia kerja juga sangat tinggi akibat mobilisasi kebijakan bekerja di luar rumah.  Akan tetapi, tujuan utamanya adalah bukan dalam rangka kesetaraan dan peningkatan kehidupan perempuan, melainkan untuk mengembalikan kerugian negara yang sangat besar akibat kekalahan pada Perang Dunia II dan mengembangkan ekonomi dan industri nasional.  Kendati perempuan memiliki ruang gerak yang bebas untuk berkarya di luar rumah, namun mereka tetap dibebani dengan pekerjaan domestik serta pemeliharaan anak dan orangtua.

Menjelang tahun 1989, keadaan mulai berubah secara dramatis.  Titik baliknya terjadi pada tahun 1989 ketika Mikhail Gorbachev secara resmi membubarkan Uni Soviet yang sekaligus me”mati”kan pengaruh kuat ideologi komunisme di wilayah-wilayah bekas satelitnya.  Sejak saat ini maka proses transisi menuju demokrasi dimulai dan di beberapa negara masih berlangsung hingga saat ini.

Namun, proses transisi memunculkan kembali bentuk demokrasi yang maskulin, dimana sistem dan kebijakan yang dilahirkan tetap meninggalkan perempuan di “garis belakang” dari demokrasi.  Di negara-negara yang sedang bertransisi inilah, aspek perempuan terhadap kebijakan ekonomi dan politik terbukti sangat terbatas.  Sejak Uni Soviet runtuh, tidak dapat dipungkiri bahwa masalah tenaga kerja perempuan menjadi agenda penting karena mereka seringkali diberikan upah yang sangat rendah dan pekerjaan-pekerjaan yang tidak berkualitas karena di dalam alam yang patriarki, masalah ekonomi, politik, dan sosial selalu meng-subordinasikan posisi perempuan.[3] Demokratisasi mengubah kondisi ketenagakerjaan perempuan di kawasan bekas satelit Uni Soviet ini.  Ketika era Uni Soviet, angka tenaga kerja perempuan mencapai angka 90 persen akan tetapi kecenderungan ini justru mengalami penurunan dan terus terjadi hingga saat ini.  Jumlah penganggur perempuan lebih tinggi daripada mereka yang bekerja. Hal ini berbanding terbalik dengan era komunis, dimana penganggur laki-laki jumlahnya lebih banyak daripada perempuan, dan kini sekitar 63 persen penganggur adalah perempuan.[4] Hal ini terjadi karena laki-laki selalu diberikan pekerjaan yang membutuhkan keahlian sehingga mereka layak diberi upah lebih sementara perempuan dijadikan tenaga kerja yang dibayar sangat murah.[5] Mengapa demikian ?

Pandangan konstruksi sosial yang muncul era itu adalah bahwa kualitas sumberdaya perempuan sangat kurang dibandingkan dengan laki-laki sehingga meletakkan perempuan sebagai alat produksi yang dapat dimanfaatkan dan dapat dibayar murah dalam suatu proses pembangunan.[6] Tenaga kerja perempuan dipandang sebagai buruh yang tidak produktif dan ditempatkan pada pekerjaan-pekerjaan sekunder yang tidak begitu banyak membutuhkan keahlian.[7] Maka berdasarkan pandangan ini, pada era tersebut timbul justifikasi apabila perusahaan apa pun memberikan upah lebih rendah kepada kaum perempuan pekerja adalah wajar atau biasa.[8] Dalam kacamata ekstrim negara-negara bekas satelit Uni Soviet, perempuan digambarkan tidak dapat melakukan peng-press-an buku dan membuat bookbinding.  Perempuan selalu sakit, melahirkan, menyusui sehingga mereka dianggap sebagai sampah.  Perempuan juga dianggap sebagai makhluk yang segera setelah menikah lalu berhenti bekerja.  Perempuan selalu ingin pulang lebih cepat dan menolak diajarkan keahlian-keahlian.  Perempuan juga selalu mengalami kecelakaan karena ia tidak mengerti sama sekali tentang permesinan dan suka beradu mulut satu sama lain.[9]

Reformasi ekonomi lantas tidak membawa keberuntungan di pihak perempuan.  Bidang industri misalnya yang dulunya didominasi oleh perempuan, seperti tekstil, banyak yang ditutup atau justru malah diprivatisasikan. Di bawah kebijakan liberalisasi pasar, sang pemodal umumnya cenderung untuk memilih tenaga kerja laki-laki karena pertimbangan perempuan akan menghambat produktivitas.  Oleh karena itu, dengan keterbatasan dari sisi pendidikan dan kahlian, maka perempuan harus berupaya ekstra keras untuk dapat terlibat dalam sebuah industri.  Begitu pula dalam hal pengambil kebijakan ekonomi.  Pada dasarnya setiap manusia mempunyai tugas dan kewajiban sebagai konsumen, produsen, dan pelaku distribusi.  Akan tetapi, karena pandangan subordinasi terhadap perempuan ini telah melekat di dalam setiap pengambilan keputusan di sector ekonomi, maka relasi yang timpang sangat mewarnai sektor ini.  Akibatnya terdapat relasi kuat-lemah yang mengakibatkan persaingan dalam dunia ekonomi dimana persaingan bebas diwatakkan menjadi sebuah penindasan.[10] Perempuan yang memang sudah diposisikan ter-subordinasi, membuat posisi mereka menjadi semakin melemah.  Perempuan kehilangan hak milik kekayaan pribadinya karena hak ini hanya diakui milik laki-laki.  Dengan demikian, mereka kurang mendapatkan akses untuk permodalan.  Sangat jelas bahwa dalam sistem negara-negara Eropa Timur dan Tengah paska runtuhnya Uni Soviet, pembagian kekuasaan masih sangat termonopoli dengan sangat kuat sehingga tidak ada pembagian sarana produksi dan tidak ada kebebasan untuk membuat pilihan segingga keadaan ini membuat kedudukan perempuan semakin terpuruk.

Kesimpulan yang dapat diambil adalah bahwa kedudukan perempuan di wilayah Eropa Timur dan Tengah paska runtuhnya Uni Soviet masih dikategorikan sebagai pihak yang termarjinalkan.  Hal ini disebabkan karena konstruksi patriarkal masih tersimpan dalam benak pemimpin-pemimpinnya.  Mereka masih memakai sistem  Uni Soviet yang terpusat walaupun secara terang-terangan mereka menegaskan bahwa posisi perempuan akan dapat “terangkat”.  Kalaupun perempuan bekerja, maka mereka akan dibayar dengan upah yang sangat rendah karena mereka tidak memiliki keahlian untuk mengerjakan segala pekerjaan yang bisa dilakukan oleh laki-laki.  Selain itu, perempuan masa transisi selalu memiliki stigma bahwa mereka tidak dapat bekerja dengan baik dan cekatan karena keterbatasan fisik, seperti mengalami haid, mengandung, melahirkan, dan menyusui anak sehingga mereka dipekerjakan hanya dalam industri sekunder.

DAFTAR PUSTAKA

Effendi, Tadjuddin Noer, “Peran Perempuan dalam Pembangunan Ekonomi”, dalam Nusyahbani Katjasungkana, Loekman Soetrisno, et.al. (eds.), Potret Perempuan, Yogyakarta : Pustaka Pelajar, 2001.

Honeyman, Katrina dan Jordan Goodman, “Women’s Work, Gender Conflict and Labour Markets in Europe”, dalam Fiona Montgomery dan Christine Collete, The European Women’s History, a Reader, London : Routledge, 2002.

Koenker, Diane P., “Men Against Women on the Shop Floor in Early Soviet Russia : Gender and Class in the Socialist Workplace”, dalam Fiona Montgomery dan Christine Collete (eds.), The European Women’s History, a Reader, London : Routledge, 2002.

Mar’iyah, Chusnul, “Transisi Demokrasi dan Konsolidasi : Peran Negara dan Peluang Gerakan Perempuan”, dalam Jurnal Analisis Sosial, vol. 6, no. 1, Februari 2001.

Murniati, A. Nunuk P., Getar Gender, Magelang : Indonesiatera, 2004.

Wahyuningroem, Sri Lestari, “Perempuan dalam Demokratisasi, di Negara Eropa Paskakomunisme, dalam Kompas, Senin, 27 September 2004.


[1] Chusnul Mar’iyah, Ph.D, “Transisi Demokrasi dan Konsolidasi : Peran Negara dan Peluang Gerakan Perempuan”, dalam Jurnal Analisis Sosial, vol. 6, no. 1, Februari 2001, hal. 37.

[2] Diane P. Koenker, “Men Against Women on the Shop Floor in Early Soviet Russia : Gender and Class in the Socialist Workplace”, dalam Fiona Montgomery dan Christine Collete (eds.), The European Women’s History, a Reader, (London : Routledge, 2002), hal. 289.

[3] Katrina Honeyman dan Jordan Goodman, “Women’s Work, Gender Conflict and Labour Markets in Europe”, dalam Fiona Montgomery dan Christine Collete, The European Women’s History, a Reader, (London : Routledge, 2002), hal. 79.

[4] Sri Lestari Wahyuningroem, “Perempuan dalam Demokratisasi, di Negara Eropa Paskakomunisme, dalam Kompas, Senin, 27 September 2004, hal. 44.

[5] Op.cit, Honeyman dan Goodman, hal. 80.

[6] Tadjuddin Noer Effendi, “Peran Perempuan dalam Pembangunan Ekonomi”, dalam Nusyahbani Katjasungkana, Loekman Soetrisno, et.al. (eds.), Potret Perempuan, (Yogyakarta : Pustaka Pelajar, 2001), hal. 56.

[7] Op.cit, Honeyman dan Goodman, hal. 80.

[8] A. Nunuk P. Murniati, Getar Gender, (Magelang : Indonesiatera, 2004), hal. 46.

[9] Op.cit, Koenker, hal. 292.

[10] Op.cit, A. Nunuk. P.Murniati, hal. 174.

Wacana Gender dalam Uni Eropa

Realisasi dari adanya kesetaraan hak di dalam masyarakat Eropa sebenarnya telah menjadi pokok utama tersendiri di dalam pilar kebijakan sosial.  Bagi komisi Uni Eropa, masalah kesetaraan hak adalah suatu masalah yang sangat penting sebagai kerangka hukum dalam merefleksikan kebijakan-kebijakan sosialnya (European Social Model).  Uni Eropa memiliki kebijakan-kebijakan sosial yang sangat menitikberatkan kepada nilai-nilai demokrasi dan hak-hak individu, kebebasan dalam kerangka tawar menawar, pasar ekonomi bebas, dan persamaan kesempatan dalam segala hal.

Sebelum kebijakan-kebijakan tersebut keluar, debat-debat mengenai kesetaraan kedudukan menjadi satu polemik yang tergolong serius di dalam masyarakat Eropa.  Pertanyaan-pertanyaan yang muncul pada saat itu adalah, apakah perempuan bisa disamakan haknya dengan laki-laki ? atau apakah perempuan harus melakukan kampanye-kampanye untuk menunjukkan bahwa mereka sama kedudukannya dengan kaum laki-laki ? Hal ini muncul karena, kaum perempuan berpendapat bahwa hukum adalah hasil konstruksi sosial dari kaum laki-laki yang tentu saja sekaligus melegalkan kekuatan laki-laki di dalamnya.  Selain itu, kaum perempuan juga berpendapat bahwa instrumen-instrumen hukum yang sekiranya untuk melindungi kaum perempuan justru dikembangkan dan dilaksanakan oleh laki-laki.

Lantas bagaimana kita mendefinisikan konsep persamaan (equality) dalam kerangka hukum ? Bagi masyarakat Eropa dan internasional, konsep kesetaraan antara kaum perempuan dan laki-laki ditekankan kepada karakteristik non-diskriminasi terhadap individu atau kelompok.

Dalam tingkatan komunitas Eropa, hal ini dapat terlihat pada Traktat Maastricht artikel 141 (ex artikel 119) yang menyatakan bahwa setiap negara anggota harus melaksanakan prinsip upah yang sama terhadap pekerja laki-laki dan perempuan dalam situasi kerja yang sama pula (ayat 1).[1] Kemudian artikel ini disempurnakan kembali melalui Traktat Amsterdam yang menyatakan bahwa selain adanya persamaan upah harus ditambah dengan promosi kesetaraan kedudukan antara laki-laki dan perempuan (artikel 141).[2] Melihat dari artikel-artikel diatas, maka kesetaraan gender di Eropa dapat ditempatkan dalam konteks bahwa kaum perempuan harus disetarakan dengan kaum laki-laki dalam berbagai hal, bahkan pengadilan (court of justice) juga menambahkan bahwa kaum homoseksual, lesbian, dan transeksual juga harus disetarakan kedudukannya.  Maka jelas terlihat bahwa masyarakat Eropa sangat melegalkan perbedaan-perbedaan gender yang ada sehingga pengadilan menetapkan bahwa prinsip kesetaraan gender menjadi hak-hak yang fundamental dan tidak dapat di ganggu gugat.

Peran komisi Uni Eropa untuk merealisasikan kesetaraan gender ini, bukanlah didasarkan kepada sesuatu yang mudah.  Pertama-tama mereka mengeluarkan white paper kebijakan sosial yang mencoba untuk mengadaptasi dan menciptakan suatu wacana bahwa kaum perempuan harus disetarakan kedudukannya dengan laki-laki.  Akhirnya pada tahun 1972, lahirlah program sosial melalui Paris Communiqué yang menyatakan bahwa kesetaraan gender harus dimulai di dalam kancah perusahaan-perusahaan yang memperkerjakan perempuan.  Terdapat tiga hal penting mengenai kesetaraan dalam kesepatakan ini, yaitu :

  1. Kesetaraan upah dan nilai bagi pekerja perempuan dan laki-laki.
  2. Kesetaraan pendidikan yang sama dan penghapusan diskriminasi dalam lapangan pekerjaan.
  3. Kesetaraan jaminan sosial dan keamanan bagi perempuan dan laki-laki.

Pada tahun 1980, pada saat terjadi stagnasi pembuatan kebijakan-kebijakan sosial, muncul kembali dua hal penting yang mengacu kepada kesetaraan gender, yaitu :

  1. Masalah implementasi kesetaraan jaminan sosial dan keamanan.
  2. Kesetaraan aktifitas pribadi bagi kaum perempuan, seperti mengurus bayi, keluarga , dan lain sebagainya.

Lantas pada tahun 1989, muncullah program aksi sosial (social action programme) yang menyatakan bahwa kaum perempuan haruslah dijamin keselamatannya pada saat mereka mengandung dan setelah mereka melahirkan.  Untuk melaksanakan aktifitas-aktifitas tersebut, maka di dalam tingkatan Uni Eropa terdapat komite-komite yang memperjuangkan kaum perempuan, seperti Komite Hak-Hak Perempuan, Komite Penasehat Kesetaraan Kesempatan Perempuan dan Laki-laki, partai-partai politik yang memperjuangkan kesetaraan gender, dan lain sebagainya.

Selain itu, dalam institusi Uni Eropa terdapat ombudsman kesetaraan yang ditugasi untuk mencari fakta-fakta ketimpangan kesetaraan, menerima keluhan-keluhan dari para perempuan yang terkena diskriminasi gender, dan berusaha untuk bernegosiasi dengan pihak pengadilan untuk cepat menyelesaikan masalah.

Di dalam dunia internasional, terdapat juga pengembangan realisasi menuju ke kesetaraan gender, seperti pada :

  1. Piagam Perserikatan Bangsa-Bangsa yang menyatakan bahwa PBB sangat menghormati hak asasi manusia tanpa memandang adanya diskriminasi terhadap ras, jenis kelamin, bahasa, dan agama (artikel 1 ayat 3).
  2. Universal Declaration of Human Rights (UDHR) yang menyatakan bahwa setiap orang dikategorikan sebagai makhluk yang bebas tanpa memandang ras, warna kulit, jenis kelamin, bahawa, agama, opini-opini politik, suku bangsa, kepemilikan, dan status lahir (artikel 2).  Begitu juga di artikel 7 yang menyatakan bahwa setiap manusia setara di bawah lindungan hukum tanpa adanya diskriminasi.
  3. International Covenant of Civil and Political Rights (ICCPR) yang menyatakan  bahwa setiap negara harus melaksanakan kesetaraan antara perempuan dan laki-laki (artikel 3), selain itu dinyatakan juga bahwa setiap manusia sama kedudukannya dalam hukum tanpa adanya diskriminasi ras, warna kulit, jenis kelamin, bahasa, agama, opini politik, suku bangsa, kepemilikan, dan status kelahiran (artikel 26).
  4. Convention on the Elimination of Discrimination Againts Women (CEDAW) yang menyatakan bahwa setiap negara harus menghapuskan segala macam bentuk diskriminasi terhadap perempuan di segala hal, akan tetapi lebih dititkberatkan pada bidang politik, sosial, ekonomi, dan kebudayaan, termasuk pendidikan, pekerjaan, dan kesehatan. CEDAW didirikan pada tahun 1979 sebagai bentuk responsif kaum perempuan terhadap bentuk diskriminasi. CEDAW juga memiliki komite tersendiri dalam menangani masalah-masalah diskriminasi terhadap perempuan.
  5. International Labour Organization (ILO) yang menyatakan bahwa kesetaraan perempuan dimulai dari bentuk non-diskrimininasi di dalam dunia pekerjaan.
  6. Dan akhirnya dalam European Convention on Human Rights (ECHR) yang menyatakan bahwa hak-hak dan kebebasan seseorang haruslah ditempatkan dalam kerangka non-diskriminasi terhadap jenis kelamin, ras, warna kulit, bahasa, agama, opini politik, suku bangsa, dan status kelahiran (artikel 14). Selain ECHR, pada Social Charter dinyatakan juga bahwa kesetaraan upah haruslah diberlakukan kepada perempuan dan laki-laki (artikel 4 ayat 3).

Setelah kita membaca bagaimana Uni Eropa dan dunia internasional mengatasi masalah ketimpangan kesetaraan gender, maka Uni Eropa mencoba untuk mengkategorikan kasus-kasus milik perempuan yang sekiranya dapat diatasi, yaitu :

  1. Masalah kehamilan ; Bagi mereka yang sedang mengandung, maka harus diberikan izin khusus. Hal ini dilakukan untuk mencegah mereka yang mengandung terus bekerja. Pemberian izin khusus ini juga empat belas minggu setelah mereka melahirkan dimana pada saat itu perempuan memiliki tugas menyusui buah hatinya. Setiap negara anggota yang tergabung dalam Uni Eropa harus memberikan instruksi kepada pengadilan lokalnya agar memberikan perhatian lebih kepada para mereka yang sedang mengandung apabila mereka tidak diberikan izin khusus oleh perusahaannya.  Selain itu, negara anggota juga harus memperhatikan keselamatan dan kesejahteraan bagi mereka yang sedang mengandung.
  2. Masalah mengasuh anak (childcare) ; Dalam hal ini, komisi tidak mengharuskan adanya ikatan hukum bagi setiap negara anggota (non-legally binding). Mereka harus bekerja sama sendiri dalam tingkatan nasional, regional, dan otoritas lokal, seperti perusahaan, organisasi, dan praktek-praktek individual dalam rangka penyesuaian masalah mengasuh anak. Yang penting adalah bahwa perempuan harus memiliki otoritas penuh dalam masalah  pengasuhan anak-anak mereka.  Kaum perempuan boleh bekerja asalkan pihak perusahaan yang bersangkutan memberikan izin apabila pada suatu saat anak-anak mereka jatuh sakit dan mereka harus menjaganya.
  3. Masalah waktu yang fleksibel ; Hal ini dilakukan sama seperti pada butir dua yang menyatakan bahwa pada saat anak-anak mereka jatuh sakit maka kaum perempuan harus bisa menjaga anaknya sampai sembuh, maka dapat dikatakan bahwa sewaktu-waktu mereka bisa mendapatkan izin khusus dari perusahaan.

Kesimpulan singkat yang bisa kita ambil adalah bahwa Uni Eropa nampaknya sudah begitu memperhatikan masalah kesetaraan gender. Hal ini terbukti dengan usaha-usaha komisi Uni Eropa yang mencoba untuk mempromosikan dan mendukung tindak non-diskriminasi terhadap kaum perempuan. Tidak itu saja, masyarakat Eropa juga sudah mensetarakan kedudukan kaum homoseksual, lesbian, dan transeksual karena bagi mereka masalah tersebut adalah masalah yang sudah terkait erat dengan hak asasi manusia.  Kaum perempuan kini sudah dapat duduk sejajar dengan kaum laki-laki dalam segala hal, seperti pemberian upah kerja yang sama, posisi yang sama dalam pemerintahan, dan lain  sebagainya. Hal ini berkat kerjasama sama mutual antara pihak pemerintah dan masyarakatnya sendiri.

DAFTAR PUSTAKA

Church, Clive H.  dan David Phinnemore, The Penguin Guide to the European Treaties,    From Rome to Maastricht, Amsterdam, Nice and Beyond, England : Penguin     Books, 2002.

European Commision, Glossary:Institutions, Policies and Enlargement of the European     Union, Brussels : Publications Unit, 2000.


[1] Clive H. Church dan David Phinnemore, The Penguin Guide to the European Treaties, From Rome to Maastricht, Amsterdam, Nice and Beyond, England : Penguin Books, 2002, hal. 331.

[2] European Commision, Glossary:Institutions, Policies and Enlargement of the European Union, Brussels : Publications Unit, 2000, hal. 32.

Perjalanan Panjangku Meraih Beasiswa S3

1994 UMPTN Sastra Cina dan Sastra Belanda,semuanya di UI hasilnya sukses gagal.

1994 daftar D3 Sastra Cina dan Sastra Perancis,semuanya juga di UI,berharap lolos D3 Sastra Perancis UI,malah sukses diterima di Sastra Cina UI.Sementara itu..

1994 daftar Institut Kesenian Jakarta jurusan Etnomusikologi tapi sudah keburu lolos D3 Sastra Cina UI.

1995 Iseng-iseng daftar UMPTN lagi,kali ini kembali memilih Sastra Cina UI dan Sastra Sunda UnPad-Bandung..horeee aku lolos tapi..setelah lihat kodenya kok lolos di Sastra Sunda UnPad-Bandung.Investigasi ringan tentu saja aku lolos karena daya tampung Sastra Sunda UnPad-Bandung berjumlah 15 sementara yang daftar hanya 10 orang,tentu saja aku lolos.Memang tahun-tahun era 90-an jurusan Sastra Daerah sangat minim peminatnya.

Akhirnya..

1997 lulus dari D3 Sastra Cina UI.

Sementara kuliah Sastra Cina,aku barengi dengan kursus bahasa Rusia di Pusat Kebudayaan Rusia.

Selesai Sastra Cina,dengan tekad menempuh pendidikan S1 di luar negeri,aku iseng-iseng daftar program Beasiswa Rusia yang diselenggarakan oleh Kedutaan Besar Federasi Rusia di Jakarta.

Hasilnya..

1998 lolos program Beasiswa Rusia untuk S1 Asian Studies di Moscow State University (MGU).MGU adalah universitas negeri sekelas UI dan bagiku akan bangga sekali apabila bisa kuliah disana.

Tetapi..

Akibat iseng-iseng tanpa pemberitahuan orang tua,hasil kelulusan beasiswa itu aku beritahukan ke ayahku yang sekarang telah almarhum.TIDAK ! Kata ayahku.KAMU TIDAK BOLEH SEKOLAH DI RUSIA ! AYAH TIDAK MAU APABILA HUBUNGAN INDONESIA DAN RUSIA MEMBURUK,KAMU TIDAK BISA PULANG KE INDONESIA.

Ternyata ayahku terkena imbas kenangan masa lalu tahun 1965.

Aku pasrah..

Impianku untuk membahagiakan orang tuaku untuk kuliah S1 di luar negeri tanpa membebani mereka sirna sudah.

1998 aku mendaftar FISIP UI jurusan Ilmu Politik.

Sembari kuliah S1,aku kursus bahasa Belanda di Erasmus Taalcentrum.

2001 aku lolos beasiswa Summer Course Dutch Language and Culture di Zeist-Utrecht.Program ini adalah program tahunan yang diselenggarakan oleh Nederlandse Taalunie.Mereka melalui Kedutaan Besar Kerajaan Belanda di Jakarta,merekrut siswa-siswa terbaik dalam berbahasa Belanda.Program ini diikuti oleh jurusan Sastra Belanda UI,Semarang,Makassar dan Erasmus Taalcentrum.

Sekali lagi aku bangga dengan prestasiku itu.

2003 aku lulus dari program S1 Ilmu Politik UI.

Dan Perjalanan Pencarian Beasiswa Yang Sesungguhnya Berlangsung.

Pencarian Beasiswa untuk program S2 tentu tidak mudah.

Gagal dan gagal lagi.

2003 aku akhirnya mendaftar di program S2 Kajian Wilayah Eropa UI.

2006 aku lulus S2.

Mulai Kembali Menyusuri Pencarian Beasiswa.

Tetapi..

Kali ini Mencari Beasiswa S3.

Tentu semakin sulit.

Tetapi..

Tekad sudah bulat – TIDAK AKAN KULIAH S3 TANPA BEASISWA.

Daftar beasiswa Erasmus Mundus – GAGAL

Daftar beasiswa DAAD Jerman – GAGAL

Daftar beasiswa BGF Perancis – GAGAL

Daftar beasiswa Chevening Inggris – GAGAL

Daftar beasiswa di Univ.Nottingham – LOLOS tetapi hanya dapat beasiswa partial yang setelah dikalkulasi justru tidak menguntungkan.

Daftar beasiswa ke Universitas Oslo – GAGAL

Daftar beasiswa ADS Australia – GAGAL

Daftar beasiswa di Universitas Camerino Italia – GAGAL

Daftar beasiswa di Universitas Milan – GAGAL

Daftar beasiswa di Universitas Leiden – GAGAL

Bayangkan..

Sudah berapa juta yang harus aku habiskan hanya untuk legalisir,menerjemahkan dokumen,sampai mengirimkan dokumen melalui kurir internasional.

Sampai akhirnya..

2009 aku mencoba iseng-iseng mendaftar kembali program Beasiswa BGF Perancis.Kali ini aku mendaftar untuk S3 bidang Sosiologi,dahulu bidang Ilmu Politik.

Daftar tanpa niat,memasukkan semua dokumen 2 hari sebelum penutupan,tanpa surat penerimaan dari Universitas di Perancis,padahal syarat utamanya apabila ada surat penerimaan atau paling tidak surat kontak dengan salah satu profesor di Perancis,maka aplikasiku akan diutamakan.

Akhirnya..

Tanpa berpikir apa-apa..

2 Juni 2009,tepat dihari Ulang Tahunku,ada sebuah email dari Kedutaan Besar Perancis bahwa aku lolos uji administrasi dan berhak masuk uji interview atau uji terakhir.

11 Juni 2009 aku datang untuk uji interview.

Tanpa persiapan..duduk manis di depan kantor mereka untuk sekedar menyantap makan sore,semangkuk mie ayam dan sebotol teh botol Sosro.

15.00 wib ujian mulai.

“Please tell us about your project”,ujar sang penguji.

Tanpa basa basi,kuceritakan proyek S3 ku dengan agak tersendat.

Pikiranku akan GAGAL.

2 minggu setelah itu..

“hei liat website kedutaan deh”,sms salah satu teman sesama ujian interview.

Masya Allah..

Alhamdulillah..

Aku sujud syukur..

Aku LOLOS BEASISWA S3 SOSIOLOGI DI PERANCIS.

Tetapi..

Aku baru bisa berangkat september tahun 2010 karena masih harus mengurus semua dokumen tambahan selama 1 tahun dan tentunya aku harus mempelajari bahasa Perancisku dulu yang sudah lama tidak aku gunakan.

Alhamdulillah..

Terima kasih Tuhan,Kau segarkan bathinku setelah pencarian beasiswaku yang menghabiskan segala tenaga dan materi selama bertahun-tahun.

Aku akan segera berangkat untuk mengejar cita-citaku,meraih Ph.D di Perancis.

Tetapi..

Sayang ayah meninggal dunia tahun 2007,ibu tahun 1995 dan adik perempuanku tahun 2000.

Belum sempat mereka melihatku bahagia dan belum sempat aku membahagiakan mereka.

Tetapi sudahlah..

Beasiswa S3 ku itu khusus kupersembahkan untuk mereka,

Untuk adik laki-lakiku,istrinya dan buah hati mereka,

Juga buat semua temanku,sahabatku yang telah ada dalam hidupku.

Amin..

Berat rasanya tetapi harus kulakukan

Tak terasa bulan berganti bulan dan kali ini dalam hitungan hari puasa akan kembali menjamah kita.Puasa berarti akan ada lebaran dan lebaran berarti seharusnya idealnya bisa berkumpul dengan orang-orang tercinta keluarga inti.

Tepat 14 tahun ibu meninggalkanku menghadap sang Pencipta.

Tepat 9 tahun adik perempuanku juga dipanggil sang Khalik.

Tepat 2 tahun ayah pun dipanggil yang Maha Kuasa.

Tinggallah aku dan adik laki-lakiku,beserta istri dan buah hatinya yang menjadi keluarga intiku.

Berat rasanya detik demi detik,menit demi menit,jam demi jam,hari demi hari,minggu demi minggu,bulan demi bulan,tahun demi tahun ku lalui.

Sulit rasanya memendam seluruh perasaan emosi,senang,sedih apabila tidak kuungkapkan kepada mereka.

Letih rasanya untuk tidak menitikkan air mata demi sesaat mengenang mereka.

Hampir bosan rasanya hidup tanpa mereka.

Nyaris hampa hidupku tanpa kehadiran mereka.

Dan..

Kehadiran beberapa teman dan sahabat yang sudah aku anggap saudara,sedikit demi sedikit mampu menggerakkan hatiku untuk sejenak berpikir bahwa hidup itu masih ada.Bahwa hidup harus terus berjalan.Bahwa tersenyum dan tertawa itu masih perlu dan bahwa menangispun masih dibutuhkan.

Ingin rasanya aku memeluk teman dan sahabatku semua demi hanya melulu mengucapkan seuntai kalimat TERIMA KASIH.

Dan aku pun merasa kalimat itu pun belum mampu dan belum cukup untuk diungkapkan.

Masih banyak..

Dan..

Masih banyak..

Ya..

Masih banyak..

(teman..sahabat..hari puasa sudah dekat..Mohon Maaf Lahir Bathin,semoga puasa kita kali ini benar-benar menjadi puasa yang sempurna..sampai hari menjelang hari raya)

Welgefeliciteerd de Stadsschouwburg te Batavia~Gedung Kesenian Jakarta

J’ai écrit cette article pour celebrer l’annivérsaire de Gedung Kesenian Jakarta..mais je l’ai écrit en hollandais🙂

1821..

Het jaar dat jij staat

Het jaar dat jij begint

Het jaar dat jij bekend bent

Het jaar dat jij loopt

Het jaar dat veel prins en prinses bij de rode tapijt loopt

Het jaar dat ze een diepe grote zoentjes geven

Het jaar dat jij magnifique bent

Het jaar dat jij gigantisch bent

1900..

Het jaar dat jij minder macht hebt

Het jaar dat jij mislukt

Het jaar dat veel mensen een fout maken

Het jaar dat jij huilt

Het jaar dat jij kruipt

Het jaar dat jij halt adem

Het jaar dat jij boos zijn

Het jaar dat jij minderwaardigheidcomplex hebt

Kortom het jaar dat jij een scheldwoorden spreekt

Ruzie maken

Nachtmerrie

2000..

Het jaar dat jij blij bent

Hei ik wordt een echte Stadsschouwburg

Hei mijn naam verandert

Hei tegenwoordig wordt ik Gedung Kesenian Jakarta

Stadsschouwburg

Gedung Kesenian Jakarta

Ik ben jarig

5 september 1987

1987 ?

Ja hoor na de grote renovatie

Ik ben nu al 22 jaar oud

Oud genoeg maar ik ben nog sterk en stevig

Kijk maar mijn nieuwe kleur

Wit als sneuwtjes

Wit als mijn hart

Hartelijk bedank voor jullie !!

Ik hou erg van jullie

~reflectie van de 22ste jaar van onze lieve STADSSCHOUWBURG~

La Reflection de Ma Vie et Ta Vie !

J’attends la bonheur que deja perdu..

Mais je n’est jamais voir ou se trouve la ?

Quelques fois j’ai vu que tu n’est que dans mon reve

Ta main me demandes pour te suivre

Mais j’ne peux pas..

Je veux encore faire cette vie

Je sais bien que la vie n’est pas en rose

La vie est beaucoup des bruyantes..

Tu m’as dit que tu aimes vivre au paradis

Oui bien,parce que tu est deja mortee

Et apres la morte tu definitement habites la-bas

Oui bien ! On a la vie different et on a partage parmi beaucoup des murs

Tu sais ? Tu dois savoir ma cheri.

Parce que je dois continuer ma vie dans ce monde et tu continues ta vie dans ton monde.

Nous celebrons nos fetes dans le monde partage.

Nous voyons cette future dans le point different.

Ma cheri..je t’aime et je t’embrasse tres fort !

(la reflection de ma vie et ta vie) mais qui est-t-elle/il ?

Je m’abime dans ma douleur..

Je m’abime dans ma douleur

Avec toi..

Je m’absorbe dans ma douleur

C’est a cause de toi..

Je me constitue prisonnier

C’est a cause de ton coeur..

Je me plonge dans ma douler
Et je m’empare ton coeur encore..

Je m’eccoude..

Mon coeur se serre..beaucoup des douleur..

J’essaie s’arranger pour se concentrer seul..

Enfin je me balade et je me reveille..

Je m’avance..peux pas..

Je me recule..peux pas..

Je m’ecarte..peux pas..

Ton silhouette se trouve juste la-bas..

Je me referme..peux pas aussi..

Je me mele..peux pas encore..

Jamais !

Ensuite..

Je me rapporte a quelqu’en de dire pas tomber amoureux avec moi !

Je m’eloigne de toi !

Je me repose pour moi meme..